Kesatria dan Kota Hujan

Kesatria baru tiba di kota itu pagi tadi. Pagi sekali. Kota yang katanya kota hujan. Kota hujan hanya hujan setiap malam datang. Sepanjang hari, matahari selalu bersinar cerah tanpa memberikan tanda kalau malam akan turun hujan. Mungkin nama kota ini harus diganti. Hujan harusnya tak kenal waktu siang atau malam.

Setiap malam selalu turun hujan. Tak ada bintang atau bulan yang bersinar tenang. Langit malam hanya dipenuhi awan gelap dan hujan. Hujan di kota hujan tak ada romantisnya. Nama kota ini memang harus diganti.

Dari balik gelap malam, bersinar titik-titik cahaya dari jauh. Kesatria menatap langit malam kota hujan yang selalu terilhat sedih. Malam penuh hujan. Kesatria merindukan Bintang Jatuh. Bintang yang kepadanya dulu Ia pernah jatuh cinta. Bintang Jatuh tak ada di kota hujan. Bintang Jatuh mungkin sudah benar-benar jatuh. Jatuh seperti hujan. Tak jatuh lagi ke langit.

Kesatria pergi ke pusat kota hujan. Ia melihat menara, tinggi sekali. Tingginya bahkan menembus awan dan langit kota hujan. Kesatria pergi menuju ke atas menara. Mungkin dari sana Ia bisa melihat Bintang Jatuh. Kesatria terus naik menuju setinggi langit.

Kesatria melihat cahaya dari atas menara. Cahaya yang tak pernah Ia lihat di kota manapun. Hanya ada di kota hujan. Cahaya yang hanya bisa Ia lihat dari tempat tertinggi di menara. Kesatria menatap cahayanya, bersinar indah menghiasi malam. Cahaya yang teduh di mata. Aurora.

Pagi menjelang. Aurora menghilang bersamaan dengan matahari yang datang. Kesatria merasakan kehilangan dalam hatinya. Perasaan yang sama ketika Ia kehilangan Bintang Jatuh. Di atas menara, Kesatria tetap tidak dapat melihat Bintang Jatuh. Kesatria merindukan Bintang Jatuh yang bersinar di malamnya.

Hari berganti hari. Entah Kesatria melewatkan berapa kali malam di menara. Setiap kali hujan, Aurora selalu berada diatas menara. Menaruh doa dan harapannya pada setiap bulir hujan yang jatuh, untuk bisa bertemu lagi dengan Kesatria. Kesatria yang padanya hati Aurora berlabuh. Seperti hujan. Jatuh lalu teduh. Aurora mencintai Kesatria. Sesederhana itu. Kesatria yang malam itu terlihat sangat sedih.

Aurora merindukan Kesatria. Ia hanya bisa menunggu Kesatria kembali ke menara. Karena hanya dari menara, Kesatria bisa melihat Aurora dan Aurora bisa melihat Kesatria.

Kesatria tak menemukan tempat paling tinggi di kota hujan selain menara. Ia kembali ke atas menara. Melihat Aurora untuk kedua kalinya. Kesatria tahu Aurora adalah cahaya kota hujan. Kesatria meminta Aurora membawanya ke langit. Langit diatas langit. Siapa tahu disana Ia bisa melihat Bintang Jatuh.

Aurora mencintai Kesatria. Kesatria mencintai Bintang Jatuh. Bintang Jatuh tak ada di kota hujan.

Aurora tak bisa membohongi hatinya. Meski begitu, Ia tetap membawa Kesatria menuju langit tertinggi. Tinggi sekali. Membiarkannya bertemu Bintang Jatuh yang tertutupi cahaya Aurora. Kesatria jatuh bersama Bintang Jatuh. Jatuh ke langit.

Demi menghormati cinta Aurora. Semesta menciptakan cahaya dari air mata Aurora. Aurora yang abadi di sudut langit.

 

Suatu Ketika, 16 Januari 2014
10.02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s