Ketidaktahuan

Kalau aku tanya soal seni
Mungkin kau akan mencari, Michelangelo?
Katanya hidup adalah kerja
Sebuah aspirasi politik

Tapi, kau tak tahu seperti apa bau di dalam Kapel Sistine
Kau tak pernah berdiri disana
Lalu melihat langit-langit dengan bintang diatasnya

Kalau aku tanya soal perang
Mungkin kau akan memberikan, Shakespeare?
Frasa bersejarah, ‘Sekali lagi, teman.’

Tapi, kau tak pernah merasakan temanmu berbaring di pangkuanmu
Melihatnya menarik napas terakhir
Melihatmu seolah mencari pertolongan

Kalau aku tanya soal wanita
Mungkin kau akan ceritakan, orang yang kau suka?
Tentang malam penuh cinta yang kalian lewati

Tapi, kau tak tahu seperti apa rasanya
Bangun di sebelah wanita
Dan merasa sangat bahagia

Kalau aku tanya soal cinta
Mungkin kau akan menjawab, tentang soneta?
Sebuah alunan nada yang mampu menghentikan waktu

Tapi, kau tak pernah melihat wanita dan merasa terikat
Seolah medan magnet yang menarikmu ke matanya
Merasa seperti Tuhan memberikan malaikat untukmu
Lalu menyelamatkanmu dari neraka terdalam

Dan, kau tak pernah tahu rasanya menjadi malaikatnya
Mencintainya selamanya, melewati semuanya
Tak tahu rasanya duduk di rumah sakit dengan tanganmu di tangannya

Sementara kau anggap kau tahu semua
Tentang aku dari tulisanku

 

Good Will Hunting, 13 November 2017
05.13

Advertisements

Suara di Ujung Telepon

Aku tidak mengenalmu
Tidak sekalipun pernah menatap matamu

Tapi percakapan kita sore itu
Membunuh sepi yang tinggal dibelakangku

Suaramu adalah candu
Seperti kafein dalam kopi pagi
Seperti rintik hujan dikala malam
Saat aku hendak tidur

Sekarang aku takut
Tidak bisa untuk tidak mendengarnya
Alunan nada dari bibirmu

Aku, yang sedang rindu suaramu di ujung telepon sana
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif … ”

 

Hujan Sore-Sore, 9 November 2017
17.19

Hitam dan Putih

Hitam malam tak pernah bosan
Menunggu putih pagi dalam keheningan sejati

Ia mencintai setiap tetes cahaya yang meruntuhkan dindingnya
Meskipun harus tenggelam dan mati

Karena dalam putih pagi
Ada tawa yang dapat menghapus sepi
Ada mimpi yang harus dikejar dengan lari
Ada secercah harapan yang datang menghampiri
Membawa kebahagiaan masuk ke dalam hati

Tinta yang jatuh dalam kertas
Tak akan cukup menuliskan wajah kehidupan

Pena yang tergores lepas
Tak akan kalah oleh lelah

Kemenangan telah mengalir dalam nadi
Bermuara dalam selimut tak kenal menyerah
Menaklukan pekat dalam gelap
Menuju kebahagiaan abadi

Setelah hitam kini menjadi putih
Lalu kebahagiaan itu dapat dibangkitkan lagi
Maka tak ada lagi waktu untuk ragu-ragu

Karena kebahagiaan itu sederhana
Sesederhana malam yang digantikan pagi

 

Puisi Tiga Jam, 15 Maret 2015
XX.XX

Kesatria dan Kota Hujan

Kesatria baru tiba di kota itu pagi tadi. Pagi sekali. Kota yang katanya kota hujan. Kota hujan hanya hujan setiap malam datang. Sepanjang hari, matahari selalu bersinar cerah tanpa memberikan tanda kalau malam akan turun hujan. Mungkin nama kota ini harus diganti. Hujan harusnya tak kenal waktu siang atau malam.

Setiap malam selalu turun hujan. Tak ada bintang atau bulan yang bersinar tenang. Langit malam hanya dipenuhi awan gelap dan hujan. Hujan di kota hujan tak ada romantisnya. Nama kota ini memang harus diganti.

Dari balik gelap malam, bersinar titik-titik cahaya dari jauh. Kesatria menatap langit malam kota hujan yang selalu terilhat sedih. Malam penuh hujan. Kesatria merindukan Bintang Jatuh. Bintang yang kepadanya dulu Ia pernah jatuh cinta. Bintang Jatuh tak ada di kota hujan. Bintang Jatuh mungkin sudah benar-benar jatuh. Jatuh seperti hujan. Tak jatuh lagi ke langit.

Kesatria pergi ke pusat kota hujan. Ia melihat menara, tinggi sekali. Tingginya bahkan menembus awan dan langit kota hujan. Kesatria pergi menuju ke atas menara. Mungkin dari sana Ia bisa melihat Bintang Jatuh. Kesatria terus naik menuju setinggi langit.

Kesatria melihat cahaya dari atas menara. Cahaya yang tak pernah Ia lihat di kota manapun. Hanya ada di kota hujan. Cahaya yang hanya bisa Ia lihat dari tempat tertinggi di menara. Kesatria menatap cahayanya, bersinar indah menghiasi malam. Cahaya yang teduh di mata. Aurora.

Pagi menjelang. Aurora menghilang bersamaan dengan matahari yang datang. Kesatria merasakan kehilangan dalam hatinya. Perasaan yang sama ketika Ia kehilangan Bintang Jatuh. Di atas menara, Kesatria tetap tidak dapat melihat Bintang Jatuh. Kesatria merindukan Bintang Jatuh yang bersinar di malamnya.

Hari berganti hari. Entah Kesatria melewatkan berapa kali malam di menara. Setiap kali hujan, Aurora selalu berada diatas menara. Menaruh doa dan harapannya pada setiap bulir hujan yang jatuh, untuk bisa bertemu lagi dengan Kesatria. Kesatria yang padanya hati Aurora berlabuh. Seperti hujan. Jatuh lalu teduh. Aurora mencintai Kesatria. Sesederhana itu. Kesatria yang malam itu terlihat sangat sedih.

Aurora merindukan Kesatria. Ia hanya bisa menunggu Kesatria kembali ke menara. Karena hanya dari menara, Kesatria bisa melihat Aurora dan Aurora bisa melihat Kesatria.

Kesatria tak menemukan tempat paling tinggi di kota hujan selain menara. Ia kembali ke atas menara. Melihat Aurora untuk kedua kalinya. Kesatria tahu Aurora adalah cahaya kota hujan. Kesatria meminta Aurora membawanya ke langit. Langit diatas langit. Siapa tahu disana Ia bisa melihat Bintang Jatuh.

Aurora mencintai Kesatria. Kesatria mencintai Bintang Jatuh. Bintang Jatuh tak ada di kota hujan.

Aurora tak bisa membohongi hatinya. Meski begitu, Ia tetap membawa Kesatria menuju langit tertinggi. Tinggi sekali. Membiarkannya bertemu Bintang Jatuh yang tertutupi cahaya Aurora. Kesatria jatuh bersama Bintang Jatuh. Jatuh ke langit.

Demi menghormati cinta Aurora. Semesta menciptakan cahaya dari air mata Aurora. Aurora yang abadi di sudut langit.

 

Suatu Ketika, 16 Januari 2014
10.02

Perempuan di Stasiun Jatinegara

Sore hari ketika aku hendak pulang
Aku pertama kali melihatmu
Duduk manis di peron stasiun jatinegara

Kau bergeser kesamping kursi yang panjang itu
Membiarkanku duduk disampingmu

Aku tersenyum sebagai ucapan terima kasih yang tak ku ungkapkan
Lalu lengkungan bibirmu sore itu menambah indah lukisan langit senja

Oh Tuhan, bisakah waktu berhenti saja saat itu juga? Haha

Lagu sunyi seketika berputar dari sudut stasiun
Tanpa kata, hanya suara kereta dengan rel nya

Aku menunggu keretaku datang
Kau menunggu keretamu datang

Dari balik keramaian seorang nenek tua yang datang
Aku berdiri, kau juga ikut berdiri
Sementara mata kita saling tatap
Aku tersenyum, kau tersenyum, nenek tua itu juga ikut ternyum

Ah, apakah semesta juga tersenyum melihat kami? Haha

Aku berdiri di dekat tiang peron stasiun
Membiarkanmu duduk disamping nenek tua yang sama-sama tak kita kenal
Kau menyapanya sementara aku menatapmu

Tak lama keretaku datang
Keretaku yang juga keretamu

Kala itu kita berdiri ditengah kereta yang ramai sekali
Aku dihadapanmu, kau dihadapanku
Tapi tak berani untuk saling tatap

Dari balik suara kereta dengan rel nya
Aku takut kau mendengar suara degup di jantungku
Atau kau juga merasakan degup di jantungmu?

Waktu seakan bergerak semakin lambat
Sementara langit diluar kereta bergerak menuju malam
Menyambut perjalanan kita dengan bintang-bintang

Kereta sudah jauh dari Jatinegara
Kereta yang ramai kini menjadi kereta yang sepi
Aku masih berdiri dihadapanmu, kau masih berdiri dihadapanku
Mungkinkah kau sudah mulai bisa mendengarnya?

Rasa takutku kini berubah
Ketika aku harus melihatmu melangkah keluar saat kereta berhenti untuk transit
Ketika kau menyapaku dari jauh sebelum kakimu benar-benar turun dari kereta
Apakah ini perpisahan?

 

Malam Kelabu, 24 Oktober 2017
04.10

Ada Aku

Ada aku
Dalam pikiran mu
Itu biasa
Setiap orang memikirkan banyak hal setiap saat

Ada aku
Dalam hati mu
Itu biasa
Orang spesial selalu punya tempat di hati orang yang dicintai nya

Ada aku
Dalam tulisan-tulisan mu
Itu biasa
Meskipun tak banyak orang menulis tentang orang yang dia suka

Ada aku
Dalam doa mu
Itu luar biasa
Titik

 

Perjalanan, 4 Juni 2016
00.18